Selama ini, pemanfaatan serat daun nanas di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Serat umumnya diproduksi secara manual, baik dengan cara dikerok maupun menggunakan mesin decorticator manual.

Proses ini menghasilkan serat dalam jumlah terbatas dan belum konsisten untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil modern.

Secara tradisional, serat nanas harus disambung satu per satu sebelum dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain.

Proses yang panjang dan membutuhkan banyak tenaga kerja ini membuat semakin sedikit orang yang bersedia melakukannya, sehingga benang dan kain dari serat nanas masih sangat terbatas.

Melihat tantangan tersebut, PT Serat Nanas Indonesia (SNI) menghadirkan inovasi mesin decorticator otomatis yang mampu memisahkan serat dari daun nanas secara kontinu.

Jika metode manual hanya menghasilkan sekitar 200 kg daun dalam 8 jam, mesin otomatis yang kami kembangkan saat ini memiliki kapasitas hingga 200 kg daun per jam, dengan target pengembangan teknologi mencapai 1 ton daun nanas per jam.

Digital traceability merupakan penghubung utama dalam ekosistem ekonomi sirkular SNI.

Kami tidak hanya mengolah daun nanas menjadi serat dan advanced cellulose materials, tetapi juga membangun sistem untuk menelusuri asal biomassa, mencatat proses pengolahan, dan mengukur pemanfaatan hasil serta residunya.

Dengan sistem ini, dampak ekonomi, operasional, dan lingkungan dapat diukur secara lebih transparan dan menjadi dasar replikasi model ke sentra nanas lainnya.

Mesin decorticator otomatis menjadi enabler peningkatan kapasitas pengolahan, sedangkan digital traceability menghubungkan petani, proses produksi, dan pasar dalam satu rantai pasok yang terukur.

× Hubungi Kami Melalui WhatsApp